Matahari mulai meredupkan sinarnya.
Alunan nada khas se’ekor burung pipit
terdengar lembut menandakan hari beranjak petang. Aku tersenyum pada sosok pria
di balik tubuhku yang tengah asik
mendayuh sepeda. Waktu di jam tangan yang aku kenakan telah menunjukkan
pukul 18.30. Tidak terasa hampir satu hari penuh kuhabiskan waktu dengan
berkeliling mengutari kota besar, -tempat tinggalku. “Makasiih ya kak andre ,
see you tomorrow ” ujarku perlahan se’usai menurunkan tubuh dari pangkuan
sepeda milik Andre “you’re wellcome adik maniis ” Dibalasnya dengan tersenyum
disertai cubitan lembut pada kedua pipiku. Kami bertatapan kemudian tertawa bersama’an.
Kini Ku iringi laju sepeda sosok
pengendara itu yang kian menghilang dari pandangan ku. “If you know what I feel,
brother,,”. Gerutu ku disertai tawa
kecil dari bibirku.
Pagi hari menyambut indah dengan
cuaca yang begitu cerah. Aku mengindahkan langkahku memasuki gerbang tempat ku
menimba ilmu. Seperti biasa , sebelum menuju kelas tercinta aku harus menyantap
sarapan pagi disebuah kantin sekolahku. Tak kuduga, hari yang kurasa akan
menjadi hari menyenangkan seperti biasanya, berubah drastis. Kutatap dari
kejauhan sepasang pelajar tengah menikmati sarapan pagi bersama’an. Mereka
tersenyum satu sama lain , berpandangan dan sesekali tertawa geli. Rebahan
tangan mereka bersatu diatas meja berkulit biru. Aku membalikkan tubuh
secepatnya berharap tak ada yang melihatku. Sepanjang pelajaran berlangsung,
aku kehilangan konsentrasi. “Bagaimana bisa????” rintihku dalam hati. Aku tak
habis fikir orang yang nyaris kurasa menyukai aku ternyata mencintai orang
lain. “Gadis cantik itu kekasih kak Andre ya ?!,,, yaaahhh tidak ada kesematan
lagi untuk kita” ujar beberapa teman gadisku dikelas sembari memandangi
Andre dan kekasihnya yang tengah berjalan ber’iringan. 2 tahun kedekatan
kami mengukir banyak cerita indah dalam daftar
perjalanan hidupku. Aku memang menyukai Andre sejak pertama aku melihatnya
sampai saat ini. Laki-laki yang berstatus sebagai kakak kelasku disekolah,
tinggal tidak jauh dari tempat tinggalku. Tak ada seorangpun yang mengetahui
kedekatan aku dengan nya , termasuk teman-temanku. Andre adalah salah satu
murid tersohor disekolah, prestasi yang ia miliki tidak sedikit
disumbangkannya. Jabatan sebagai ketua osis yang berada di genggaman tangannya
pun membuatnya tampak berwibawa. Tak heran pula jika banyak gadis yang menyukai
sosok ini. Bagiku wajar jika aku tidak memperlihatkan kedekatan aku dengan nya
disekolah, karna tentunya akan ada
banyak pihak dari siswi yang tidak menyukai aku jika aku terlihat begitu dekat
dengan Andre. Sesekali mata ku tak dapat memendung air mata ketika Andre dan
kekasihnya melintas dihadapanku. Hati yang begitu terasa sakit menolak untuk
berkata “I’am fine, don’t worry”.
Di bawah pohon rindang sebuah
taman, dengan batangan kursi cantik berbaris indah disisinya. Aku masih sabar
menanti sosok yang selalu menemani aku disini. Waktu yang semula menunjukkan
pukul 07.15 hingga menunjukkan pukul 13.00 –pun sama sekali tidak memperlihatkan
sedikit tanda-tanda kemunculan seseorang yang kunanti. Aku melangkah beranjak
pulang dengan rasa penuh kecewa. “Bodoh ,, Dia pastilah sudah tidak
menghiraukan aku, karna sekarang dirinya telah ada yang memiliki” fikirku. Ku
pandang telephone genggam yang ada ditanganku. Kusadari sudah 2 minggu
belakangan ini tidak ada satupun pesan masuk darinya. Aku mulai merasakan
sebuah perubahan drastis. Sejak saat itu
aku tidak lagi berhubungan dengan nya.
Hari ini yang seharusnya menjadi hari terakhir aku
melihatnya, justru aku pergunakan untuk menyibukkan diri dengan mengerjakan
tugas-tugas dirumah. Pergelaran acara perpisahan sekolah sengaja tidak aku
hadiri.
***
5 tahun kemudian …
Bekerja disebuah perusaha’an ternama kini menjadi kegiatan
baru untuk ku. Setelah menuntaskan kuliah pada fakultas ekonomi di Universitas
berkelas di kotaku, aku langsung mendapatkan pekerja’an yang aku minati sebagai
sekertaris manager . Hari-hari ku rintis dengan kesibukan kantor. Bekerja siang
dan malam aku lakukan untuk membiayai ke 2 adik ku yang masing-masing masih
duduk di bangku sekolah menengah pertama . Ayahku hanya seorang pedagang minyak tanah yang berpenghasilah Rp.40.000-per
hari. Aku pun dapat bersekolah hingga tuntas saat ini, mengandalkan Beasiswa
yang slalu aku dapatkan sejak aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Tak ada
sesal yang aku rasa sedikitpun meski aku harus hidup didalam ruang lingkup
keluarga sederhana seperti ini. Melihat ayah dan ibuku dapat tersenyum
terkadang membuatku lupa dengan rasa lelah.
“Vio , Kita makan siang bareng yuk”
, Tanyaa Tony teman sekantorku yang saat ini sedang dekat dengan ku , “Boleh,
tapi aku yang tentukan ya kita mau makan di mana” jawab ku sembari bergegas membereskan file yang berserakan di
meja kerja. Langkah kami menuju sebuah resto dekat kantor. Kami berjalan dengan
penuh canda tawa. Tony memang paling bisa membuat cerita-cerita konyol yang
slalu berhasil mengundang tawa. “Vio, Sepertinya kemeja yang kamu kenakan
berbecak sesuatu tuh” ujar Tony sesaat, setelah wajahnya merengut saat
memperhatikan aku .
“Ehh iiya , Aduh ,, ” sahutku sembari menepuk-nepuk lembut membersihkan deretan debu yang menempel pada saku kemejaku. Dengan tidak memperhatikan arah aku melangkah . Aku berhasil menabrak seseorang yang berjalan dari arah berlawanan “Aduh .. Maaf , Saya tidak senga ,,,,,,,,,” Belum sempat aku menyelesaikan perkata’an. Ucapku telah terhenti ketika aku menatap seseorang yang sangat aku kenali dihadapanku. “Viiooooo …. Viioo” … Aku bergegas berlari kecil dengan menarik lengan Tony untuk segera pergi dari hapannya, tanpa menghiraukan iia menyebut namaku beberapa kali. Entah mengapa perasa’an ku masih saja sakit seperti dulu saat melihat nya. Tony yang tampak bingung dengan kejadian itu langsung melontarkan banyak pertanya’an untukku. Aku hanya tersenyum, tidak menjelaskan apapun. Aneh. Semenjak hari itu. Tony mulai bersikap tidak biasa. Tony yang slalu konyol, mendadak berubah menjadi lebih diam. Seperti ada sesuatu yang ingin Tony ungkapkan, entah apa itu. Sepulang dari kantor Tony mengajak aku makan malam di sebuah restoran yang letak nya jauh dari kantor, bagiku kali ini benar-benar sangat tidak biasa. Sebuah restoran jepang dipilihnya, dan sepertinya meja makan yang kami tempati pula adalah pilihan Tony. Bagaimana tidak, saat kami baru memasuki restoran ini sebenarnya masih banyak tempat kosong yang tersedia, namun Tony memilih meja makan yang letaknya bersebelahan dengan diding sudut kanan restoran yang atap nya dihiasi lampion, disisi kiri dan kanan,di tempat ini juga terdapat gantungan beberapa boneka khas jepang terpajang. “Vioo,,, sebenarnyaa aku ingin bercerita banyak hal padamu, Kamu bersedia kan mendengar ?” , Tony berkata dengan penuh kepercaya’an…. “Tentu” ujarku . “Sebelumnya aku ingin kamu jujur , Apakah Kamu mengenal laki-laki yang hari kemarin sempat berpapasan dengan kita ?” . Aku sontak kaget mendengar pertanya’an ini. Untuk apa tony menanyakannya kembali .Aku bahkan mengira Tony sudah melupakan itu . Aku tak menjawab sepatah katapun , hanya menganggukkan kepala perlahan menunjukkan bahwa aku memang mengenalnya. “Hembb ,, sudah kuduga , lantas untuk apa kita menghindari nya ? Ada masalah dengannya ? ” . Sempat bingung harus menjawab apa , aku memutuskan untuk bercerita sedikit perihal Andre yang sempat menyinggahi ruang special di hatiku. Tony sangat antusias mendengar ceritaku. Sesekali ia berdecak dan menganggukkan kepala tanda setuju. “Hemm ,, Tapi sudahlah itu hanya masa lalu” ujarku “Apa kamu masih mencintai laki-laki itu?” pertanyaan Tony semakin memaksa aku untuk memutar kembali tayangan masa lalu yang telah aku simpan sebaik mungkin. Aku hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahuku sembari menikmati juice yang sedari tadi sudah menanti diputaran meja kami “Vioo ,,, coba tatap aku , perhatikan baik-baik” ujar Tony dengan menatap lekat kedua mataku . Kupandangi Tony yang duduk tepat di hadapanku . “kenali aku dengan sosok lain , apakah kamu ingat sosok syapa yang kamu kenali saat melihat aku ??” . Aku semakin bingung dengan hal yang sebenarnya ingin disampaikan Tony . Aku mencoba mengenali . Tapi tetap saja aku tak mengingat syapapun. Tony yang sepertinya paham bahwa aku tak mengerti dengan itu semua melesatkan sebuah nama “Tania Dwi Narendra” ujarnya sembari melepaskan kaca mata baca yang slalu ia kenakan. Aku mebuka kedua mataku lebar-lebar, ucapku bungkam .Penuh menyelidik. “Wajah ituuu….” bisikku. “Tony Eka Narendra these my name, We are tween sist …” . CETARR.…. Tak diragukan lagi , aku benar-benar sangat tidak percaya dengan pernyata’an itu.
“Ehh iiya , Aduh ,, ” sahutku sembari menepuk-nepuk lembut membersihkan deretan debu yang menempel pada saku kemejaku. Dengan tidak memperhatikan arah aku melangkah . Aku berhasil menabrak seseorang yang berjalan dari arah berlawanan “Aduh .. Maaf , Saya tidak senga ,,,,,,,,,” Belum sempat aku menyelesaikan perkata’an. Ucapku telah terhenti ketika aku menatap seseorang yang sangat aku kenali dihadapanku. “Viiooooo …. Viioo” … Aku bergegas berlari kecil dengan menarik lengan Tony untuk segera pergi dari hapannya, tanpa menghiraukan iia menyebut namaku beberapa kali. Entah mengapa perasa’an ku masih saja sakit seperti dulu saat melihat nya. Tony yang tampak bingung dengan kejadian itu langsung melontarkan banyak pertanya’an untukku. Aku hanya tersenyum, tidak menjelaskan apapun. Aneh. Semenjak hari itu. Tony mulai bersikap tidak biasa. Tony yang slalu konyol, mendadak berubah menjadi lebih diam. Seperti ada sesuatu yang ingin Tony ungkapkan, entah apa itu. Sepulang dari kantor Tony mengajak aku makan malam di sebuah restoran yang letak nya jauh dari kantor, bagiku kali ini benar-benar sangat tidak biasa. Sebuah restoran jepang dipilihnya, dan sepertinya meja makan yang kami tempati pula adalah pilihan Tony. Bagaimana tidak, saat kami baru memasuki restoran ini sebenarnya masih banyak tempat kosong yang tersedia, namun Tony memilih meja makan yang letaknya bersebelahan dengan diding sudut kanan restoran yang atap nya dihiasi lampion, disisi kiri dan kanan,di tempat ini juga terdapat gantungan beberapa boneka khas jepang terpajang. “Vioo,,, sebenarnyaa aku ingin bercerita banyak hal padamu, Kamu bersedia kan mendengar ?” , Tony berkata dengan penuh kepercaya’an…. “Tentu” ujarku . “Sebelumnya aku ingin kamu jujur , Apakah Kamu mengenal laki-laki yang hari kemarin sempat berpapasan dengan kita ?” . Aku sontak kaget mendengar pertanya’an ini. Untuk apa tony menanyakannya kembali .Aku bahkan mengira Tony sudah melupakan itu . Aku tak menjawab sepatah katapun , hanya menganggukkan kepala perlahan menunjukkan bahwa aku memang mengenalnya. “Hembb ,, sudah kuduga , lantas untuk apa kita menghindari nya ? Ada masalah dengannya ? ” . Sempat bingung harus menjawab apa , aku memutuskan untuk bercerita sedikit perihal Andre yang sempat menyinggahi ruang special di hatiku. Tony sangat antusias mendengar ceritaku. Sesekali ia berdecak dan menganggukkan kepala tanda setuju. “Hemm ,, Tapi sudahlah itu hanya masa lalu” ujarku “Apa kamu masih mencintai laki-laki itu?” pertanyaan Tony semakin memaksa aku untuk memutar kembali tayangan masa lalu yang telah aku simpan sebaik mungkin. Aku hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahuku sembari menikmati juice yang sedari tadi sudah menanti diputaran meja kami “Vioo ,,, coba tatap aku , perhatikan baik-baik” ujar Tony dengan menatap lekat kedua mataku . Kupandangi Tony yang duduk tepat di hadapanku . “kenali aku dengan sosok lain , apakah kamu ingat sosok syapa yang kamu kenali saat melihat aku ??” . Aku semakin bingung dengan hal yang sebenarnya ingin disampaikan Tony . Aku mencoba mengenali . Tapi tetap saja aku tak mengingat syapapun. Tony yang sepertinya paham bahwa aku tak mengerti dengan itu semua melesatkan sebuah nama “Tania Dwi Narendra” ujarnya sembari melepaskan kaca mata baca yang slalu ia kenakan. Aku mebuka kedua mataku lebar-lebar, ucapku bungkam .Penuh menyelidik. “Wajah ituuu….” bisikku. “Tony Eka Narendra these my name, We are tween sist …” . CETARR.…. Tak diragukan lagi , aku benar-benar sangat tidak percaya dengan pernyata’an itu.
Semua ini seperti mimpi. Mendengar
seluruh lontaran cerita Tony sama halnya dengan terbangun dari tidur yang
sangat panjang. Tony rekan kerja yang
slama ini kukenal baik telah menyatakan bahwa ia adalah saudara kembar Tania,
kekasih pertama Andre di masa SMA lalu.
Tony dan Tania dipisahkan sejak mereka duduk dibangku sekolah menengah pertama.
Orang tua mereka bercerai. Tony dirawat oleh papa-nya di Jakarta, sementara
Tania dirawat oleh mama-nya di pulau dewata. Sampai suatu ketika mereka di
pertemukan kembali dalam waktu satu bulan sebelum akhirnya Tania pergi untuk
selamanya. Sejak kecil Tania memang memiliki kelainan pada tubuhnya yang dimana
iia terlahir lemah dan rentan terhadap penyakit, berbeda dengan Tony yang
terlahir sebagai anak laki-laki berkondisi sehat sempurna. Di umur Tania yang
terhitung masih remaja ia terserang sebuah penyakit ganas mematikan. Leokimia .
Umur Tania -pun dapat ditentukan oleh prediksi hitungan Docter. Pertahanan
hidup Tania melibatkan uluran tangan keluarga Andre . 3tahun lamanya Tania dan
mamanya tinggal disebuah kost-kost’an milik keluarga Andre sehingga kedekatan
keluarga Andre dengan mama Tania dapat
menjadi tali penghubung untuk mereka saling membantu. Tony yang merasa sangat
merindukan mama dan Adik-nya saat itu sempat memutuskan untuk segera
mengunjungi mereka. Bagi Tony kebahagia’an terbesarnya saat itu adalah, ;ketika ia dapat berkumpul kembali bersama
mama dan adik nya. Tania banyak bercerita pada Tony termasuk hubungan nya
dengan Andre. Tania mengungkap bahwa Tania sangat menyukai Andre, dan ia ingin
disisa waktu-nya ia dapat merasakan kehangatan cinta dari seseorang yang ia
sukai. Meski ia tau itu akan menjadi yang terakhir kali untuk Tania. Andre
menuruti dengan menjadikan Tania sebagai kekasihnya untuk beberapa waktu
lamanya.
“Tempat ini adalah
tempat terindah untuk aku dan Tania”
“Oh yaa ??”
“Iyaa ,, karna disini …. ditempat ini…. aku dapat mendengar
banyak cerita dari Tania sebelum ia harus pergi meninggalkan kita semua, dan lihat
boneka ituuu” Ungkap Tony sembari
menunjuk sebuah boneka jepang yang
terikat indah di sisi lampion “Tania sangat menyukai boneka Ishu khas jepang ,
yang di yakini dapat mengabulkan berbagai harapan.. heemm…. Aku sempat terharu mendengar
satu permohonan terakhir yang dilontarkan Tania siang itu pada boneka Ishu ,,,
iia berdoa dengan penuh harap dan keyakinan berucap ^semoga orang yang aku cintai dapat bersatu
dengan puja’an hatinya^” Tony memasang senyum sesekali pada wajah yang kian
meredup sedih se’usai bercerita.
GLEeegg !!!! Aku tak henti-hentinya merasa sangat terkejut mendengar uraian cerita Tony . “Apa
ini semua benar adanya” Ujarku dalam hati . Jika memang benar , Apakah slama
ini aku salah berusaha membenci Tania dan Andre. Hati ku berkata untuk berhenti
berfikir negative tentang nya namun kepala dan isi otak ku tak hentinya
menjudge dirinya tidak baik untukku. Aku tidak menerima jika harus begitu saja
memaafkan Andre sementara selama ini ia tak pernah ada disaat aku membutuhkan
kehadirannya bahkan tak ada satu patah katapun terucap dari bibirnya untuk
sekedar menyapaku. Menurudku tak seharusnya ia pergi menjauh meski ia telah
memiliki kekasih. Sempat terlintas dibenakku, mungkin ia malu untuk berteman
lagi denganku. Terang saja jika ia malu sebab kemapanan keluarga Andre bertolak
belakang dengan keada’anku yang memang begini adanya.
***
Semilir angin malam yang begitu
dingin mengundang getar disekujur tubuhku. Sudah tak terhitung berapa jam waktu
ku habiskan disini. Tempat yang sudah beberapa lamanya tak pernah kukunjungi. Hanya
menatap beberapa butir bunga yang tumbuh cantik disebuah taman tempatku
merenung. “Selamat malam adik manis” Suara yang begitu kukenali mengalun indah terdengar dekat
disusul dengan sodoran 2 tangkai bunga cantik dihadapanku . Kutatap asal suara
itu yang berasal dari sisi kiri hadapanku “Kak Andree ..” , Aku bergegas
berdiri sesaat . “Sejak kapan ia berada
disini” fikirku. Setelah kupastikan ini semua bukan sekedar halusinasiku
saja. Aku kian membalikkan tubuh membelakangi nya “Untuk apa kak andre kemari
?” Ujarku dengan melipatkan kedua
tangan didepan tubuhku. Tak sepatah katapun terucap dari bibirnya. “Apakah 5
tahun lamanya sudah terasa cukup bagi kak Andre untuk menjauhi Vio ? Atauu
bahkan masih kurang ? hah ..” . Berbekal keteguhan hati 5 tahun silam, aku melalui
tahun demi tahun dengan jatuh bangun merasakan sakit hanya untuk sekedar
melupakan sosok itu. Sosok yang selalu mendampingi aku baik dalam suka maupun
duka dan membuat ku tersenyum dengan hari-hari penuh warna sebelum akhirnya ia
harus pergi menjauh tanpa alasan yang sama sekali tak ku mengerti dan harus
membuat aku jatuh terpuruk karnanya. Aku dapat pastikan, ia bahkan tak pernah
tau bagaimana sakitnya perasa’annku saat melihatnya bersama orang lain yang
harus ia cintai. Justru disaat aku sudah mulai terbiasa dengan keada’an dan berdamai dengan masa laluku yang pahit. Ia hadir
kembali. “Vioo , maafkan kak Andre” ujarnya
lirih . “Untuk apa ? , semua nya sudah berlalu, Kak Andre memang sangat berhak
pergi menjauh dari Vio karna sejak dulu Vio tidak pantas bergaul dengan kak
Andre, salah besar jika Vio yang tidak lebih dari seorang anak pedagang minyak
tanah ini berharap mendapat kasih sayang tulus darii seorang kakak yang
notabene nya adalah anak dari pengusaha sukses, bahkan dirinya menduduki
sebagai siswa tersohor disekolah! Lantas untuk apa kak Andre kembali lagi
setelah sekian lama menghilang ? Oh atau jangan-jangan kak Andre datang hanya
untuk pergi lagi , Begitu?!?!?…” ujarku mulai terisak. Tubuh yang semula
merasakan dingin menusuk kulit kini mulai menghangat seiring dengan dekapan
tubuh Andre dari balik tubuhku. Balutan yang ia rekatkan membuat jantungku
berdetak tak beraturan. Perasa’an ini sama seperti dulu. Saat Aku sempat
menyadari bahwa aku mencintainya. Dengan perlahan ia membalikkan tubuhku untuk
menghadap nya. Pandangan kami bertemu. Kurasakan sentuhan lembut jemarinya
menghapus tetesan air mata yang membasahi kedua pipiku. “Siapapun Vio ,
Bagaimanapun keada’an Vio , Kak Andre tetap menyayangi Vio sejak dulu ,
sekarang dan bahkan untuk selamanya ,, bukankah Kasih sayang mengajarkan kita
untuk saling menerima kekurangan bukan sekedar kelebihan? Kak Andre tidak
pernah memandang status social sebagai tolak ukur untuk dekat dengan siapapun
termasuk mencintai seseorang. Vio masih marah dengan sikap Kak Andre yang harus
menghindar dari Vio ? Sekedar untuk Vio tau, Kak Andre melakukan itu karna ada
alasannya, alasan yang cukup rumit untuk diterima dengan logika ” ucap nya
sembari membelai rambutku dengan perlakuan selayaknya kakak terhadap adik nya. Fikirku
melayang, mungkin memang benar ia tak memiliki perasa’an yang sama seperti ku .
“I Love You little princes” bisiknya sesaat setelah melepaskan sebuah kecupan dibibirku. Detakan jantung terus melantun semakin tidak beraturan.Perasa’an tegang terpancar dari exspresi raut wajahku. Heii Mimpi macam apa ini. “Are you kidding me ?” dengan spontan kulontarkan pertanya’an lantaran terkejut dengan pernyataan yang baru saja ter’urai. Aku bingung harus berkata apa. Semua ini tak pernah ku bayangkan sebelumnya “Sama sekali tidak… Sudah seharusnya kak Andre mengatakan ini karna Kak Andre takut semua akan menjadi terlambat jika kesempatan kedua ini menghilang dan kak Andre akan lebih takut lagi apabila kak Andre kehilangan Vio , I love you Vio and that’s true , my heart choise you not me” Dengan penuh keyakinan, ia menatapku lekat-lekat “Don’t ever leave me again ,,, Can you promise to me ?” ujarku bertanya. Kini sebaris senyum terlontar dari raut wajah Andre “Promise ! I’am here always for you and I will never let’s you go ,, ” ujarnya sembari mendekap tubuh mungil yang aku miliki. Aku tak pernah lupa dengan aroma tubuh ini, dekapan yang sama sekali tak berbeda membuatku mengerti bahwa cinta kami tak pernah padam.
“I Love You little princes” bisiknya sesaat setelah melepaskan sebuah kecupan dibibirku. Detakan jantung terus melantun semakin tidak beraturan.Perasa’an tegang terpancar dari exspresi raut wajahku. Heii Mimpi macam apa ini. “Are you kidding me ?” dengan spontan kulontarkan pertanya’an lantaran terkejut dengan pernyataan yang baru saja ter’urai. Aku bingung harus berkata apa. Semua ini tak pernah ku bayangkan sebelumnya “Sama sekali tidak… Sudah seharusnya kak Andre mengatakan ini karna Kak Andre takut semua akan menjadi terlambat jika kesempatan kedua ini menghilang dan kak Andre akan lebih takut lagi apabila kak Andre kehilangan Vio , I love you Vio and that’s true , my heart choise you not me” Dengan penuh keyakinan, ia menatapku lekat-lekat “Don’t ever leave me again ,,, Can you promise to me ?” ujarku bertanya. Kini sebaris senyum terlontar dari raut wajah Andre “Promise ! I’am here always for you and I will never let’s you go ,, ” ujarnya sembari mendekap tubuh mungil yang aku miliki. Aku tak pernah lupa dengan aroma tubuh ini, dekapan yang sama sekali tak berbeda membuatku mengerti bahwa cinta kami tak pernah padam.
Kebahagia’an yang tak pernah kuduga
datang setelah pahit meraja lela disepanjang perjalanan ku menuju masa
pendewasa’an diri. Mencintai dan
dicintai secara diam-diam memang penuh dengan misteri. Andre yang semula tak
pernah kuduga akan mencintaiku lebih dari yang ku tau membuatku menjadi
seseorang yang sangat beruntung.
Cinta hanyalah sebuah kata sampai seseorang datang untuk membawa sebuah arti
Cinta hanyalah sebuah kata sampai seseorang datang untuk membawa sebuah arti




