Senyum riang terlontar dari wajah malaikat-malaikat kecil ini kala kedatanganku. Wanita paruh baya berkrudung putih lengkap dengan busana muslima yang ia kenakan, menyambut pula dengan senyum khas laksana sosok peneduh jiwa. Semua tampak berdamai dengan keada’an, meski kesederhana’an menyelimuti kehidupan mereka. Hari ini adalah hari pertamaku untuk mengunjungi sebuah panti asuhan tempatku membimbing, setelah 3 minggu belakangan ini aku berhasil disibukkan dengan tugas kuliah pertama. Disertai segenggam buku di pelukanku, aku melangkahkan kaki menuju sebuah taman milik panti. Kursi tua yang terlihat sedikit mengkarat pada ke empat ujung kakinya menanti untuk disinggahi. “Kakak, nanti kita main lagi yaa” , suara menggemaskan milik bidadari kecil terdengar hangat dari balik pintu panti itu. Aku tersenyum dan menganggukan kepala perlahan untuk membalasnya. Kini pandanganku tertuju pada sebuah diary merah jambu yang selalu menemaniku. Selembar demi selembar kucermati rangkaian kata secara perlahan. Diary ini selalu mengingatkan aku akan sosok malaikat yang tak akan pernah hilang dari hidupku. “Anya putri agung” begitu dunia menyebutnya.
3 Tahun yang lalu…
Pagi ini lagi-lagi aku mendapat hukuman lantaran terlambat datang kesekolah. Seperti biasa, hukuman yang harus aku lakukan setiap harinya adalah menatap tiang bendera dan memberikan hormat dibawah terik sinar mata hari sampai jam menunjukkan pergantian mata pelajaran. 40 menit berlalu, tanganku mulai terasa pegal, merasa saat itu tidak ada yang mengawasi aku menurunkan tangan dan beristirahat dibawah tiang bendera. “ Berdiri !!! Jam hukuman kamu belum berakhir ! ” itu suara lantang pak Beny yang terdengar sangat mencetar dari balik tubuh ku. Aku lekas berdiri kembali dan menatap hormat tiang bendera untuk beberapa menit kedepan . Berlalunya pak Beny dari hapanku . Tatapanku memanas pada sosok perempuan yang mengiringi langkah pak Beny. Ia tersenyum tertahan melirikku, seakan ingin menertawaiku. Kupandangi kemana arah mereka pergi. “Oh , anak baru ! cari masalah loe sama gue” gerutu ku penuh dendam. Sesaat setelah jam hukumanku berlalu. Aku mengindahkan langkahku menuju kelas. Kini ku arahkan pandanganku dengan sinis kepada sosok yang sangat membuat ku marah. “HEH LOE ! ,, Anak baru kamprett loe ya … Brani-braninya loe ketawain gue didepan tadi, NYARI MASALAH LOE!!” gertak ku pada anak baru itu di akhiri dengan gebrakan tangan diatas meja. Wajah nya tampak terkejut, ia memilih diam tak menjawab sepatah katapun. Disekolah tempat ku menimba ilmu, aku terkenal dengan sosok gadis badung. Hari-hari ku nikmati dengan slalu membuat onar, dari memalak murid-murid disekolahku sampai membuat mereka harus mendorong sepeda motor mereka lantaran paku tertancapkan pada masing-masing ban kendaraan bermotor milik mereka, tidak hanya itu aku dan teman-temanku juga tidak segan-segan memberi perhitungan untuk anak yang melawan pada kami dengan mengikatnya di sebuah pohon dan menyiramkan air kotor beserta lumpur yang sudah disiapkan.
***
“Sudah pulang kamu ! hari ini perbuatan apa saja yang kamu lakukan untuk membuat malu mama !!!!”, sebuah kalimat panas melesit indah dari wanita setengah baya dengan pakaian dinas lengkap. Tubuhnya yang sempurna dan ketegasan sikapnya tampak serasi dengan profesi yang dianutnya sepagai polisi wanita. Aku mengacuhkan kalimat itu dengan meneruskan langkahku menuju kamar pribadiku. Aku tidak pernah mendengarkan apa yang dikatakan mama. Bagiku tidak ada satu orang pun yang bisa mengerti aku selain papa, Pria yang telah meninggalkan aku bersama mama, 5 tahun silam. Bagaimana bisa perceraian itu terjadi tanpa ada sebab yang aku ketahui saat itu. Semuanya terjadi sudah seperti mimpi buruk yang tak ada habisnya menyertai hidupku.
***
Hari ini aku berniat untuk memberi pelajaran pada anak baru yang sudah membuat aku kesal sepulang sekolah. Dengan merencanakan ide buruk, aku mengawali taktik dengan menanti anak baru itu disebrang jalan menuju sekolah, Dito dan Ferdi sudah bersiap menangkap Anya. 20 menit berlalu, Anyapun keluar dari gang sekolah dengan langkah seanggun mungkin. Dito dan Ferdi menyergapnya., kemudian mengikat Anya pada sebuah pohon besar “Sekarang LOE akan tau akibatnya kalo udah berurusan sama gue ” , Kata-kataku terlontar dengan menengadahkan wajah Anya yang merunduk lesu.Sedikit kesal dengan ketidak berdaya’an Anya untuk melawanku sama sekali , Aku melepaskan tamparan berulang kali padanya. Air kotor dan se’ember lumpurpun berhasil mendarat pula pada seluruh tubuh Anya yang terikat indah dibawah pohon rindang tak jauh dari jalan raya. Kami tertawa terbahak .Tapi. “Wiiiuuuuu…wiiiiuuuu….wiiuuu” Suara yang tak lain adalah sirine mobil kepolisian serentak membuat aku dan teman-temanku terkejut . “Polisii” Sentakku panik . Dito dan Ferdi berhasil melarikan diri, sementara aku tertangkap lantaran terjatuh saat berlari melarikan diri. Pertemuan antara aku dan mama terjadi dikantor tempat mama ber dinas.
“Plaaakkk” Kali ini tidak hanya lontaran kata yang melesat panas, melainkan tamparan hangat pun mendarat tepat dipipiku, serentak kutatap rekan-rekan kerja mama beserta Anya terkejut “Divaa !!! kamu benar-benar sangat memalukan! Tidak cukupkah slama ini kamu sudah membuat malu mama,, Apa yang ada di otak kamu Diva !!! Apa kamu sudah gilaa !!!” … “Kalau benar Diva GILA memangnya kenapa ma ??? Diva memang gila ma !!! GILA akibat apa yang telah mama dan papa lakukan kepada hidup Diva ” Spontan mama nyaris melesatkan tamparan untuk kedua kalinya namun tak disangka Anya menangkap tamparan itu secepat mungkin “Cukup Tante, Maafkan Anya yang harus melakukan ini, bukan maksut Anya untuk mencampuri urusan keluarga tante , tapi kita perlu ingat saat ini kita dimana! Reputasi tante perlu dipertahankan”. Aku terkejut. Bagaimana bisa seseorang yang kini seharusnya sangat membenciku justru melakukan ini. Kejadian yang teramat mengingatkan aku pada sosok papa yang selalu membelaku disaat mama kesal akibat ulahku.
***
Apa yang telah aku lakukan terhadap Anya tidak sama sekali membuat aku dijebloskan kebalik deruji besi. Anya tidak menuntut ku, bahkan berkatnya lah aku masih bisa menginjakkan kaki disekolah. Kabar atas apa yang telah terjadi padaku sudah tersebar luas. Tatapan-tatapan sinis dari seluruh penjuru kelas mulai terasa memperhatikan langkahku. Aku mengabaikan perasaan itu. Hal ini sudah terbiasa untukku. Ruang kelas tampak sunyi setelah kedatangan ku. Tak satupun menegurku termasuk Dito dan Ferdi. Aku mengerti dengan suasana seperti ini. Sepulang sekolah aku berhenti disebuah rumah makan dekat dengan rumah sakit terbesar di kotaku. Aku menikmati santapan siangku pada tempat dimana papa dan aku slalu bersama menghabiskan waktu. Sebuah meja makan klasik tertata rapi dengan sofa melingkari .Dinding kaca sebagai pelepas jenuh tampak bening memuaskan. Menatap jauh menerawang, anganku mengingatkan aku saat-saat bersama papa. Aku tersenyum. “Heii” Sentuhan lembut terasa bersama’an dengan datangnya suara itu “LOE ?? .. loe tau dari mana gue disinii ! Ngapain loe?” , “eemm Aku ga sengaja aja lihat kamu disini ,, Aku ganggu ya ? maaf yaa, kalo gitu aku pulang dulu” balasan lembut terurai dari ucapan Anya “Eh , tunggu , duduk aja”. Sejak saat itu hubungan pertemanan aku dan Anya membaik. Cerita yang ia lontarkan sering kali membuatku tertawa. Sejak papa memutuskan meninggalkan aku dan mama , tidak ada seorang pun yang dapat membuat aku tertawa puas seperti ini. Hari demi hari berlalu. Aku semakin senang dekat dengan Anya. Anya adalah seorang gadis misterius bagiku.Sedikit demi sedikit Anya membantuku untuk berubah. Banyak hal dari diri Anya yang membuatku terkagum. Seperti halnya hati yang tak pernah dengki pada siapapun. Aku tidak pernah mendengar Anya mengeluh tentang apapun. Hingga suatu ketika “Anya , Loe sakit ?”, melihat wajah Anya begitu pucat aku menyadari bahwa hari itu Anya sedang tidak sehat. Anya hanya tersenyum manatapku. Tiba-tiba… Praaaakkk … Tubuh Anya terjatuh pada lantai tempat kami berdiri. Hidungnya mengeluarkan banyak cairan kental berwarna merah. “Tollooooongggggggg” Teriakku…..
***
Kuraba isi dari tas bercorak bunga berwarna hijau muda milik Anya . Berharap menemukan telephone genggam, agar aku dapat menghubungi keluarganya . Berhasil menemukan telephone genggam . Aku mulai menghubungi sebuah nama yang tertera “Bunda” didalamnya. 3 jam berlalu… tampak seorang wanita paruh baya berkrudung kuning lengkap dengan baju muslim yang menempel ditubuhnya setengah berlari kearah ku. “ini betul, Diva ? Teman Anya yang tadi telfon????” , ujar wanita itu tampak panik “Iya Ibu ,, Saya Diva , teman Anya” , “Bagaimana keada’an Anya putri saya ,nak ?” , “Docter sedang menanganinya bu, ibu tenang dulu”.
4Jam berlalu begitu saja, namun Docter yang menangani Anya tak kunjung menampakkan diri. Ibunda Anya menangis seolah tak ingin kehilangan Anya. “Sabar ya bu, Anya akan baik-baik saja”ujarku lirih. Ibunda Anya mengangguk perlahan dengan tak henti meneteskan air mata. beliau pun bercerita banyak tentang Anya. Anya yang sama sekali tak pernah ku tau sepenuhnya, ternyata memiliki latar belakang keluarga yang begitu menyedihkan. Anya adalah putri tunggal dari buah cinta seorang prajurit TNI dengan Kepala juru masak sebuah cafeteria didaerah Cirebon, jawa barat. 18 tahun yang lalu Ibunya meninggal saat memenuhi tugas mulianya untuk melahirkan Anya kedunia ini, Sedangkan ayah nya tewas tertembak saat bertugas membela Negara . Sejak lahir Anya dirawat oleh Adik dari ibunya yang kini menjadi bunda terkasih untuknya. Bunda Meii yang hanya berprofesi sebagai penjaga panti asuhan tidak pernah merasa terbebani oleh kehadiran Anya. Kebangga’an tersendiri untuk bunda Meii dapat merawat malaikat kecil yang kini menjelma sebagai putri cantik dihidupnya. Anya sangat dekat dengan adik-adik di panti asuhan tempat ibundanya bekerja. Anya menyayangi adik-adik yang sedari dulu dianggapnya sebagai keluarga baginya. Namun na’as ,diusia Anya yang beranjak 11 tahun, ia telah difonis memiliki tumor otak dikepalanya. Sampai saat ini penyakit itu berkembang dan menjadi sebuah kanker ganas yang mematikan. “C'kleeekkk” , pintu ruang ICU pun terbuka dengan menampakkan sosok pria muda berjas putih di iringi dengan 2 wanita cantik di sisi nya. Tampak wajah murung terpancarkan. “Bagaimana keada’an anak saya dock” , “Maaf bu, kami sudah melakukan penanganan semaxsimal mungkin, akan tetapi putri ibu tidak dapat kami selamatkan”. Mendengar pernyata’an itu bunda Meii menjerit histeris. Tak kalah terkejut tubuhku terpaku menatap pintu ruangan tersebut. Air mata yang begitu deras terasa membasahi pipi. Aku sangat tidak menyangka akan hal ini. Gadis yang selalu membawa ku terbang tinggi dalam kedamai’an meninggalkan aku begitu saja di waktu yang singkat.
***
Langkahku berat menuju tempat peristirahatan terakhir malaikatku. Disepanjang jalan pemakaman yang kutemui hanya barisan orang-orang yang tak kukenali tengah menangis melepas kepergian Anya. Disekeliling pusaran Anya melingkar teman-teman sekolah beserta guru-guru yang turut berduka dengan meneteskan air mata untuk Anya. Bagaimana tidak , meski baru menginjak satu tahun berada disekolah, Anya sangat terkenal sebagai murid teladan berkat kepandai’an serta kerendahan hati dan jiwa welas asih yang ia miliki, tidak ada yang tidak mengenali sosok gadis ini. Bumi seakan ikut bersedih. Cuaca yang seharusnya cerah, menjadi mendung bersilir angin dingin berlalu. . . .
Minggu ke 3, setelah pemakaman Anya usai, aku tertarik untuk mengunjungi panti asuhan tempat bunda Meii bekerja. “Assalamualaikum bunda” , Salam hangat -ku lontarkan untuk bunda yang tampak masih tak bergairah atas kepergian Anya “Wa allaikum salaam” jawab bunda Meii. Seharian aku menghabiskan waktu penuh di panti asuhan bersama anak-anak. Merasa sedikit lelah. Aku membaringkan tubuh pada dipan tua yang letakknya tak jauh dari taman. Tubuhku terasa mengganjal. Seperti ada sesuatu yang diletakkan pada alas dipan ini. Jemariku mulai meraba pada ganjalan yang menggangguku sampai akhirnya ku temukan sebuah buku diary berwarna merah jambu . Entah mengapa prasaan ini sangat memaksaku untuk ingin tau tentang siapa pemilik buku diary yang kini ada pada genggaman tanganku.Dengan perlahan aku mulai membaca data yang tertera pada lampiran biodata. Aku terkejut saat menatap satu nama yang tertera pada diary ini. “Anya Putri Agung ” ujarku lirih “bukuu inii ….”. Selembar demi selembar diary merah jambu milik Anya aku cermati . Seluruh isi dari diary ini sangat membuatku terkagum. Sungguh tak terduga aku sempat mengenal sosok malaikat berwujud nyata . Pantas saja air mata membanjiri pusaran Anya .
Dear Diary , Hari ini Anya senang sudah dapat membuat bunda tersenyum sebab Anya memberikan prestasi terbaik Anya di sekolah, Entah sampai kapan Anya dapat mengukir senyum pada raut wajah bunda, sedang umur Anya pastilah tak lama lagi. Anya berharap tak hanya pada raut wajah bunda , Anya dapat mengukir sebuah senyum namun pada raut wajah setiap orang yang Anya kenali… Anya ingin Papa dan mama bangga pada Anya, meskii Anya tak sempat menatap mereka bahkan untuk terakhir kalinya ,, Anya rinduu papaa dan mamaa ,,,
24 September 2003
Dear Diary , Anya merasa sudah lelah, ingin terlelap dalam damai, Sakit ini menyiksa Anya, Tapi apakah perjuangan hidup Anya harus berhenti sampai disini ? Sedangkan Anya masih ingin membuat banyak hal yang dapat berguna untuk orang-orang yang Anya sayangi , Anya ingin suatu saat, dari hasil jerih payah Anya, Anya dapat membiayai sekolah Adik-adik hingga mereka menjadi anak-anak yang pandai dan memiliki masa depan yang baik,, Bunda dan adik-adik, merekalah alas an utama Anya untuk bertahan.
1 November 2003
Dear Diary , Bagi Anya, Hidup itu seperti memotong benang saat menenun sebuah kain , yang dimana kain tidak akan dapat berguna apabila kain tersebut belum selesai di tenun sama hal nya dengan hidup Anya yang tidak akan bermanfaat apabila Anya memutuskan untuk berhenti berjuang saat ini, karna Anya memiliki banyak impian untuk masa depan yang baik.
Salah satu impian terbesar Anya adalah memberi Bunda dan Adik-adik tempat yang lebih layak untuk tempat tinggal, semoga tuhan memberikan kelancaran…
21 Desember 2003
Dear Diary , Hari ini Anya memulai aktifitas di sekolah baru, banyak sekali kesan yang Anya dapat dari sekolah, terutama bertemu dengan seorang gadis cantik di sebuah lapangan sekolah,Entah siapa nama gadis itu. Anya menikmati hari-hari dengan berkumpul bersama teman-teman baru yang sangat ramah. Anya sangat ingin mengenal gadis cantik yang Anya temui tadi di lapangan, tapii,,,, sepertinya ia kurang suka dengan Anya. Semoga lain kali Anya dapat berbincang dengan gadis itu …
2 January 2004
Dear Diary , Anya terkejut dengan apa yang sudah Anya dengar dari mama Diva. Diva gadis cantik yang bersembunyi di balik sifat arogan, memiliki beberapa tahun kenangan pahit dengan perjalanan masa remajanya, hal yang membuat gadis ini tampak berbeda dengan sifat aslinya. Anya tau meski Diva terkesan arogan tetap saja jiwa kepeduliannya tidak hilang darinya. Suatu hari, Anya sempat melihat Diva memberi sedekah pada kakek tua peminta-minta sepulang sekolah , Anya juga sempat memergoki Diva memberi bungkusan nasi pada anak jalanan , di tempat yang sering ia lewati. Anya sangat kagum dengan Diva. Diva adalah gadis yang paling beruntung di dunia ini karna selain tuhan memberinya tubuh yang sempurna dan sehat serta paras yang cantikk ia juga dicintaii oleh seorang ibu yang sangat memperhatikannya . Anya ingin berteman dekat dengan Diva, meski itu hanya sebatas angan untuk Anya. Anya hanya berharap dapat membantu Diva untuk menemukan arti hidup sebenarnya. Kira-kira boleh tidak Anya iri kepada Diva hemm....
10 Maret 2004
Dear Diary , Tidak ada yang lebih indah dari hari dimana Anya dapat berdamping dengan Diva , ini seperti mimpi. Dapat membuatnya semangat dan tersenyum kembali adalah suatu kebangga’an tersendiri untuk Anya.
11 Oktober 2004
Dear Diary , Hari ini begitu menyenangkan. Segalanya terasa lebih indah. Anya sangat bahagia… Bunda dan Adik-adik juga terlihat sangat bahagia. Apakah kebahagia’an ini akan terus dapat Anya berikan, sementara tubuh Anya sudah tidak kuat lagi. Sakit ini tidak tertahankan, itu yang Anya rasakan skarang. Anya sedih jika harus meninggalkan Bunda dan Adik-adik . Anya berharap pada tuhan, apabila Anya harus pergi tuhan memberikan satu penjaga’an terhadap Bunda dan Adik-adik dengan mengirimkan seorang malaikat yang bersedia menjaga mereka. Anya tidak pernah menyesali apapun yang terjadi pada Anya,Anya juga tidak pernah kecewa meski tuhan memberi umur yang tidak panjang seperti anak-anak yang lain, karna bagi Anya, Diberikan kesempatan untuk menikmati hidup seperti ini sudah menjadi hadiah teristimewa yang pernah tuhan berikan pada Anya.Bersyukur adalah cara Anya berterimakasih sedalam-dalam nya kepada tuhan yang bersedia membimbing langkah Anya sampai saat ini. Setiap orang tau hidup itu penuh warna tapi tak banyak orang yang tau bagaimana menikmati hidup dengan cara yang sederhana. Tersenyum disaat hati letih dan Tertawa bahkan disaat diri merasa ingin menangis. Anya yakin dan percaya kebahagiaan sejati itu tumbuh dari hati , dan itu yang membuat Anya selalu memiliki alas an untuk tersenyum dan bahagia karna hati Anya selalu merasa sangat bahagia ketika melihat orang yang Anya sayangi bahagia. Hembb ,, besok Anya harus menepati janji untuk pergi menemani Diva, Anya tidak ingin mengecewakan Diva, Semoga esok keada’an Anya jauh lebih baik dari ini
Membaca seluruh rangkaian ulasan isi hati Anya membuat aku meneteskan air mata. Anya selalu menjadi kan kebahagia’an orang lain sebagai kebahagiaannya, dan Anya tak pernah mengeluh sedikitpun, meski ia tau hidupnya cukup sulit untuk dilalui , Kebesaran hati Anya menerima segala kenyata’an yang ada sangat membuat orang lain terkagum. “Diva,, mengeluh bukanlah suatu jawaban atas masalah yang kita miliki, Karna mengeluh tidak akan membantu apa-apa untuk kita, berhenti mengeluh dan terus lah berjuang, sampai saat nya tuhan berkata ‘Waktunya untuk pulang’ ”. Sebaris kalimat itu selalu terngiang di benak ku. Malaikat itu, kini telah berada disisi sang pencipta. Satu hal yang akan aku lakukan untuk Anya adalah menjadi perisai bagi Bunda Meii dan Adik-adik sampai impian Anya untuk memberikan tempat yang layak dan pendidikan yang baik untuk Adik-adiknya terwujud.
***
“Kak Divaaa ,, katanyaa mau main lagiii” …. Suara khas malaikat kecill yang terdengar renyah berhasil membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum dan mencubit gemas pada kedua pipi gadis kecil ini. “Iyaa ,, kitaa main yuuk” balas ku . Aku sadar kebahagiaan yang datang dari hati terasa lebih nikmat dari segalanya, dan kebahagia’an itu mudah untuk didapatkan dengan cara yang sangat sederhanya. Seperti mengukir senyum pada raut wajah orang-orang yang kita cintai.
*Happiness comes when we stop complaining about the troubles we have, And say "Thanks god for the troubles we don't have"* ^_^


